Sabtu, 26 November 2011

Asal usul Ondel-ondel

Jakarta memang punya daya pesona luar biasa. Betapa tidak, kedudukannya sebagai ibukota negara telah memacu perkernbangannya menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perindustrian, dan pusat kebudayaan. Jakarta menjadi muara mengalirnya pendatang baru dari penjuru nusantara juga mancanegara. Unsur seni budaya yang beranekaragam yang dibawa serta oleh para pendatang itu menjadikan wajah Jakarta semakin memukau. Bagaikan sebuah etalase yang memampangkan keindahan, Jakarta adalah ratna manikam yang gemerlapan. lbarat pintu gerbang yang megah menjulang Jakarta telah menyerap ribuan pengunjung dari luar dan kemudian bermukim sebagai penghuni tetap.
Lebih dari empat abad lamanya arus pendatang dari luar itu terus mengalir ke Jakarta tanpa henti-hentinya. Bahkan sampai detik inipun kian hari tampak semakin deras, sehingga menambah kepadatan kota. Pada awal pertumbuhannya Jakarta dihuni oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Melayu, dan dari beberapa daerah lainnya, di samping orang-orang Cina, Belanda, Arab, dan lain-lain, dengan sebab dan tujuan masing- masing. Mereka membawa serta adat-istiadat dan tradisi budayanya sendiri Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar penduduk, adalah bahasa Melayu dan bahasa Portugis Kreol, pengaruh orang-orang Portugis yang lebih dari satu abad malang melintang berniaga sambil menyebarkan kekuasaanya di Nusantara.
Di Jakarta dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku bangsa, bahkan antar bangsa, dan lambat laun keturunannya masing- masing kehilangan ciri-ciri budaya asainya. Akhirnya sernua unsur itu luluh lebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang kemudian Betawi etnis baru yang kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi.
Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri-ciri budayanya yang makin lama semakin mantap sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Namun bila dikaji pada permukaan wajahnya sering tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya.
Jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi itu sering menunjukkan persarnaan dengan kesenian daerah atau kesenian bangsa lain.Bagi masyarakat Betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan seni budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu. Demikian pulalah sikap terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciriciri ke Betawiannya, terutama pada seni pertunjukkannya..
Berbeda dengan kesenian kraton yang merupakan hasil karya para seniman di lingkungan istana dengan penuh pengabdian terhadap seni, kesenian Betawi justru tumbuh dan berkernbang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh karena itu kesenian Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat.
Salah satu bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalarn pesta-pesta rakyat adalah ondel-ondel. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yangsenantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. (kotatua.blogspot.com/2007/06/sejarah-budaya-jakarta.html)

Media utama kesenian ini adalah sebuah boneka raksasa tinggi-besar. Ukurannya sekitar 2,5 meter. Nah, boneka inilah yang lazim disebut dengan ondel-ondel. Boneka ini berbahan dasar bambu. Bagian dalamnya dibuat semacam pagar atau kurungan ayam supaya mudah dipikul orang yang membawanya. Boneka ini digerakan oleh seseorang yang masuk ke dalam. Jangan pernah bayangkan wajah boneka ondel-ondel ini rupawan. Buang kesan itu jauh-jauh. Karena wajah ondel-ondel ini bisa dibilang “menyeramkan” dan absurd sekali. Matanya besar-bulat melotot. Kepalanya dilapisi ijuk atau kertas-kertas warna-warni, sebagai rambut. Jika “manggung” ondel-ondel selalu dibawa sepasang: lelaki-perempuan. Ada ciri khas ondel-ondel lelaki dan perempuan. Lelaki wajahnya berwarna merah tua sedangkan perempuan biasanya berwarna putih. Entah ada atau tidak hubungan antara pewarnaan ini dengan warna bendera kita: merah-putih.

Berdasarkan situs whalee.wordpress.com/2008/04/14/ondel-ondel/ dikatakan bahwa

Ondel-ondel konon telah ada sebelum Islam tersebar di Jawa. Dahulu berfungsi sebagai penolak bala atau semacam azimat. Saat itu, ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur penjaga kampung. Tujuannya untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan mengganggu manusia. Oleh karena itu tidak heran kalau wujud ondel-ondel dahulu, menyeramkan. Gambar foto dari sejarawan Rushdy Hoesein yang dilansir dari milist Historia Indonesia membuktikan hal itu. Menurut Rushdy, foto tersebut (lihat gambar) merupakan pertunjukan ondel-ondel pada tahun 1920-an. Wajah ondel-ondel lebih mirip raksasa lengkap dengan caling dan mata melotot. Ciri ondel-ondel perempuan dan lelaki pun tidak jelas (milist historia-indonesia).

Seiring perjalanan waktu, fungsinya bergeser.  pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta (1966-1977), ondel-ondel menjelma menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur. Biasanya disajikan dalam acara hajatan rakyat Betawi, penyambutan tamu kehormatan, dan penyemarak pesta rakyat. Dibeberapa daerah di Nusantara, terdapat juga pertunjukan kesenian yang mirip ondel-ondel, seperti di Bali jenis kesenian yang mirip ondel-ondel ini disebut dengan barong landung dan di Jawa Tengah yang dikenal masyarakat sana dengan sebutan barongan buncis. Karena pada awalnya berfungsi sebagai personifikasi leluhur sebagai pelindung, maka bisa dikatakan bahwa ondel-ondel termasuk ke dalam salah satu bentuk teater tanpa tutur. “Ning-nang-ning-nung…” ondel-ondel beraksi diiringi musik yang khas. Musik pengiringnya sendiri tidak tentu. Bergantung rombongan masing-masing. Ada yang menggunakan tanjidor. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi. Dan ada juga yang menggunakan bende, ningnong, dan rebana ketimpring.

Read more »

Asal usul Betawi

Sejak dulu memang sudah banyak perdebatan mengenai asal mula beragam budaya yang kini ada di Betawi. Paralel dengan perdebatan sejak kapan kaum Betawi eksis. Pakar masalah Betawi seperti Ridwan Saidi mengungkapkan bahwa orang Betawi sudah ada sejak jaman Neolitikum. Sementara Lance Castle, sejarawan Belanda, mengatakan bahwa yang disebut kaum Betawi baru muncul pada tahun 1930, saat sensus penduduk dilakukan. Pada sensus penduduk sebelumnya, kaum Betawi tidak disebutkan. Kala itu sensus memang dilakukan berdasarkan etnis atau asal keturunan.
Namun terlepas dari itu, memang kemunculan kaum Betawi baru terdengar secara nasional pada saat Muhamad Husni Thamrin mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi.
Sebelumnya etnis Betawi hanya menyebut diri mereka berdasarkan lokalitas saja, seperti Orang Kemayoran, Orang Depok, Orang Condet, Orang RawaBelong dan sebagainya.
Lalu bagaimana dengan munculnya ragam budaya di Betawi ? Mengenai hal ini, tak dapat dipungkiri bahwa mulai terjadi saat Sunda Kelapa Menjadi Pelabuhan Internasional yang ramai dikunjungi kapal-kapal asing pada abad 12. Kemudian pada abad 14 sampai 15, Sunda kelapa dikuasai Portugis. Mereka juga banyak memberi pengaruh kebudayaan yang kuat kala itu.
Padat tahun 1526,  Pangeran Fatahillah  menyerbu Sunda Kelapa dan menamakan daerah kekuasaannya dengan nama Jayakarta . Sejak dikuasai Fatahillah, kota Jayakarta banyak dihuni oleh orang Banten, Demak dan Cirebon.
Lalu saat Jan Pieterzoon Coen menguasai Jayakarta dan mendirikan Batavia, dimulailah mendatangkan etnis Tionghoa yang terkenal rajin dan ulet bekerja untuk membangun ekonomi Batavia.  Coen juga mendatangkan banyak budak dari Asia Selatan dan Bali.
Perlahan tapi pasti kebudayaan di Batavia kala itu semakin semarak saja, karena setiap etnis biasanya juga membawa dan mempengaruhi kebudayaan setempat.
Ditambah lagi umumnya para budak atau etnis tertentu yang didatangkan ke Batavia adalah pria. Sehingga disini mereka kemudian kawin dengan wanita setempat dan beranak pinak.
Disaat bersamaan pula para pedagang dari Arab dan India juga terus berdatangan, oleh Belanda mereka di tempatkan di Pekojan. Semakin hari semakin banyaklah pendatang dari India dan Arab, akhirnya mereka pindah ke Condet, Jatinegara, dan Tanah Abang. Tak heran masih banyak warga keturunan Arab di daerah-daerah tersebut.
Sementara para anak keturunan bangsa Portugis ditempatkan di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Dengan semakin beragamnya etnis di Betawai, maka setiap etnis biasanya mempengaruhi setiap perayaan etnis Betawi. Seperti budaya penyalaan petasan, Lenong, Cokek, hingga pakaian pernikahan adat Betawi yang didominasi warna merah, itu semua dipengaruhi kuat oleh budaya Tionghoa.
Kemudian etnis Arab sangat mempengaruhi musik gambus dalam warna musik marawis  dan Tanjidor. Tanjidor sendiri adalah perpaduan budaya Eropa, Cina, Melayu dan Arab. Sementara di kampung Tugu terkenal dengan budaya keroncong yang bersal dari Portugis.
Sumber: Kabari News
Read more »

Gambang Kromong, seni musik perpaduan Betawi dan Cina

Gambang Kromong selama ini dianggap sebagai musik asli Betawi, tetapi sebenarnya merupakan percampuran yang kuat dengan musik China yang diperkenalkan oleh masyarakat China Benteng yang sampai sekarang masih bermukim di belakang Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Provinsi Banten.
China Benteng adalah sebutan populer bagi kaum Tionghoa peranakan (kiaw seng), yaitu keturunan hasil pencampuran antara laki-laki China (sin kheh) dengan perempuan (nyai) di wilayah Teluk Naga, Tangerang, Banten. Percampuran itu membuat warna kulit warga China Benteng berbeda dengan warga Tionghoa pada umumnya. Mata mereka sipit, tetapi warna kulitnya sawo matang.
Selain itu, berbeda dengan beberapa masyarakat Tionghoa lainnya yang mampu berbahasa Hokkian, masyarakat China Benteng pada umumnya hanya mampu berbahasa Melayu. Barangkali para nyai lebih suka mengajari anak-anak mereka dengan bahasa setempat ketimbang menyerahkan pada latar belakang suami.
Kebudayaannya yang lahir dari proses akulturasi— percampuran tradisi budaya negeri China dengan budaya setempat—inilah yang membuat keunikan masyarakat China Benteng. Salah satunya tampak pada musik gambang kromong yang sangat populer di daerah ini.
Gambang Kromong
Jika musik-musik populer mencoba membangun budaya yang pop dan ideal bagi masyarakat, musik gambang kromong mengungkapkan perjalanan budaya lokal dengan keunikan yang terdapat di dalamnya. Gambang kromong yang identik dengan warga China Benteng merupakan hasil perpaduan antara musik asli Betawi dan alat-alat musik Tionghoa, bahkan terkadang dengan alat musik Eropa.
Saat ini, gambang kromong dimiliki oleh dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat peranakan Tionghoa (hasil perkawinan campur antara Tionghoa dan pribumi) dan masyarakat Betawi. Masyarakat peranakan Tionghoa ataupun Betawi umumnya bertempat tinggal di daerah yang sama serta sama-sama menggunakan bahasa Melayu berdialek Betawi.
Sementara itu, istilah gambang kromong diambil dari dua alat musik Indonesia, yaitu sebuah silofon (gambang) dengan 18 bilah nada yang dilaras secara pentatonis sepanjang tiga setengah oktaf dan sepuluh buah gongkettle kecil (kromong) yang dilaras secara pentatonis sepanjang dua oktaf.
Sumber : majalah Warisan Indonesia
Read more »

Mengajar nyanyi mandarin

Wah..akibat diadakannya lomba kali ini, banyak sekali saya menerima permintaan untuk mengajar...ehmm..sebenarnya memang saya ingin sekali berbagi ilmu nyanyi saya, tapi kesibukan saya yang memang lagi padat2nya benar2 memerlukan perhatian khusus dalam pengaturan waktunya. Namun tentunya saya sangat ingin memenuhi permintaan orang2. 
Saat ini memang kesibukan saya selain sebagai penyiar, penyanyi, saya juga ada mengajar nyanyi...namun tidak setiap hari. Karena ya itu tadi, waktunya itu loh..
Tetapi saya sudah bicarakan dengan menejemen saya dan juga Radio Cakrawala untuk mempertimbangkannya. Tidak ada salahnya juga jika saya menyempatkan satu hari saja mengajar nyanyi di kelas khusus saya. Saya senang berbagi ilmu. Dan kalau saya mengajar nyanyi, biasanya murid saya langsung menerima pelajaran bahasa mandarin juga..hehehe...
Dan materi pengajaran dari saya pastinya ada teknik rekaman yang baik. Dalam rekaman, trick ambil nafas itu adalah yang paling penting. Bagaimana cara mengambil nafas tanpa diketahui oleh pendengar. Nah..itu tuh..hihihi...ga mudah loh..
Kalau dari sekian banyak peserta yang berlomba, hampir semuanya kedengaran saat mengambil nafas. Dan ada juga yang sering kehabisan nafas di ujung kalimat lagu^^memang semua itu perlu latihan. Tapi tidak terlalu sulit kok. Pengalaman saya rekaman sejak tahun 1989 sudah banyak menghasilkan ilmu rekaman yang baik^^
Sebenarya lebih sulit menjadi penyanyi rekaman dari pada penyanyi panggung loh. Kita kalau nyanyi di panggung, 1 lagu saja bisa sele 3 menit. Kalau rekaman....1 lagu kadang membutuhkan 3 hari..hahahhaa..itu kalau yang pemula. Tapi kalau sudah terbiasa, nanti bisa seperti saya, dalam 1 jam, mampu menghasilkan 2 lagu yang rapih dan enak didengar..
Mudah2an, saya bisa membuka kelas berbagi ilmu saya nanti...semuanya tergantung menejemen deh^^
Saya pikir, jika kita mampu bernyanyi dengan baik, saat kita tampil di hadapan keluarga, kawan2, relasi, pastilah kt bisa mendapatkan tepuk tangan yang hangat...mana tau...dapat angpao pula...heheheh
Read more »

Mangapa Jurinya bukan dari China???

Saya dan Ivan Lin
Ehmm..mau sedikit curhat nih...
Sempat mendapatkan bocoran dari panitia..ternyata ada peserta yang keberatan dengan kategori Juri...wah wah..
Mengapa jurinya bukan orang China saja? Mengapa tidak undang saja dari China langsung kan lebih berbobot??
Hehe..padahal peserta tersebut sudah lolos ke semi final lho..dan sebenarnya, kalau memang kami mengundang juri langsung dari China, saya rasa, mestinya peserta yg bicara tersebut tidak akan lolos karena lafal mandarinnya sebenarnya masih jauh dari standarisasi seorang penyanyi rekaman lagu mandarin^^Hanya karena dewan juri masih mempertimbangkan, bahwa peserta tersebut masih bisa dilatih lafalnya. Tapi, ternyata, beliau malah protes, mestinya jurinya dari China saja...hehehe...
Kalau untuk kategori juri,,,begini loh...kita ini memang akan membuat album rekaman bagi peserta yang menang. Dan pasarannya tujuannya adalah di Indonesia, bukan di CHINA lho..kami ini membuat lomba adalah untuk sesuatu yang positif dan bermakna bagi negara Indonesia, bukan bagi negara lain:)
Jika kami mengundang juri dari China, yakin deh...dari 300 orang peserta, pasti hanya 10 atau 20 orang saja yang lafal mandarinnya layak diperdengarkan. 
Kita tumbuh dan berkembang di lingkungan Indonesia, dengan berbagai macam logat daerah toh...terkecuali, anda pernah bersekolah di China, maka bisa jadi, logat anda bagus. Dan kami ini tidak ingin mengecewakan peserta lomba. Kita membuat ajang ini adalah kebersamaan, bukan untuk saling menuding bahwa "wah dia ga layak masuk final ah, logatnya jelek gitu.." "wah, jurinya kan ga ngerti mandarin, knp bisa jadi juri?".."ah payah...kok jurinya org Indonesia sih?" wah..wah wah...itu anggapan sangat sangat sangat sangaaaat salah besar!!!
Bagi saya, seorang peserta jika memang suaranya bagus, namun logatnya tidak sempurna, itu masih bisa dilatih, diperbaiki. Tidak ada kata terlambat. Dan saya selalu membuka kesempatan seseorang untuk  bisa berkembang lebih baik. Jika memang ada satu peserta yang logatnya kacau namun ternyata suaranya sangat layak untuk direkam, justru itu adalah tantangan produser. Kita akan bekerja keras untuk memperbaiki lafalnya saat rekaman. Dan saya ingin hasilnyapun akan membuat peserta itu bangga, semua orang bangga:) Tidak ada kata "gak mungkin bisa!"
Kalau soal kenapa saya memilih jurinya orang Indonesia? Ya iyalah...namanya saja ajang ini diadakan berdasarkan ingin mempererat kebersamaan. Saya tidak ingin jika saya mengundang juri asli dari China, lalu dia dengan lugas secara live berkata "Lafal anda tidak bagus" "logat anda berantakan" "nyanyian anda tidak sempurna" wah... nanti malah bukan menjadi ajang persahabatan eh...jadinya malah kami menyakiti hati peserta yang merupakan pendengar setia radio kami. Ya ga? 
Selama saya bekerjasama dengan orang China asli...mereka dikenal lugas dan to the point. Jika memang tidak bagus ya mereka akan bilang jelek. Saya lebih condong, ajang ini dipenuhi dengan kesopanan, rendah hati, tidak saling mencela, apalagi semua peserta sudah bekerja keras berlatih. Karena, sekali kita salah ucap di udara, maka akibatnya akan fatal. Banyak akan terjadi ketersinggungan.
Saya rasa, pemilihan saya terhadap dewan juri ini sudah sangat tepat. 
Saya memilih Maribeth yang adalah orang Fillipine dan lama tinggal di Indonesia. Pengalaman dia show keliling dunia sudah memperkaya pengetahuan olah vocal. Jebolan Juara 1 ajang bergengsi Voice Of Asia tahun 1991 ini dia memang tidak bisa bahasa mandarin, namun, dia mampu menilai apakah seseorang itu bersuara mantab untuk menjadi penyanyi atau tidak. Maribeth adalah guru vokal yang berpengalaman. Banyak penyanyi muda sudah dihasilkan olehnya di Indonesia. Dia adalah guru privat bagi banyak atis muda di Indonesia.
Saya memilih Sarwana, juga karena pengalaman dia bersama Group WARNA yang sudah keliling benua..15 tahun lamanya. Apakah itu tidak menambah ilmu pengetahuannya di bidang nyanyi? Sarwana mampu memecah suara dengan sangat baik. Dia juga adalah seorang guru vokal. Hasilnya ini tidak lepas dari pengalamannya bernyanyi selama 20 tahuanan ini. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Berbeda lho dengan pengalaman nyanyi Karokean selama 20 tahunan:)
Saya memilih Ivan Lin, dia memang pandai berbahasa mandarin, dan dia juga adalah guru bahasa mandarin. Walaupun dia orang Indonesia, namun dia mampu membuat syair lagu mandarin yang sangat baik sekali. Pengalamannya bersama boyband mandarin di Indonesia ini , Dong Feng, telah menjadikan Ivan sebagai sosok guru yang baik dalam menyanyi. Sudah banyak sekali lagu yang dia hasilkan. Dan saya tidak meragukan kemampuannya dalam menilai seseorang apakah dia bagus atau tidak nyanyiannya.
Saya memilih Calvin Qiu, yang satu ini jangan ditanya. Pengalamannya dari panggung ke panggung sudah tidak diragukan lagi deh...jebolan kejuaraan di China ini benar2 sangat berkwalitas sebagi seorang juri yang handal. Pengalamannya sebagai guru latih vokal di Cheng Xing Indosiar telah melambungkan namanya di Indonesia sebagai guru vokal lagu mandarin terbaik.
Saya memilih Adri Manan, yaahhh...yang ini nih....lha dia produser rekamannya kok..heheh..jadi, kalau menurut dia suara si peserta layak utk direkam, ya pasti dia akan memilihnya:)
Lalu, saya memilih saya sendiri..hehehe... ga usah dijelasin deh...intinya...lha wong ini acara saya kok^^
Pokoknya, anda jangan khawatir deh..kami ini membuat lomba tidak asal2an saja. Kami serius dan kami ahli di bidang ini:) Lomba ini tidak hanya dinilai dari kehebatan si peserta berbahasa mandrin, namun yang terpenting, adalah vokal dia layak direkam. Jika memang bahasa mandarinnya sudah mentok, kami masih bisa mengarahkannya untuk rekaman lagu Indonesia toh^^

Jadi, saya mengharapkan, baiknya, marilah kita saling menghargai, saling mendukung. Akan lebih terhormat jika kita bisa menghargai kawan2 setanah air. Buat apalah kita mengelukan negara lain? Kan kita hidup dan matinya di Indonesia , seburuk2nya, ya Indonesia adalah warga negaranya saya..kita berkawan, makan bersama, nyanyi bersama, kerja bersama , susah dan senang bersama di Indonesia toh? Makanya, ajang ini untuk kita, utk Indonesia...bkn utk yang lain^^
Semoga, peserta yang komplain itu, yang merasakan keberatan jurinya adalah orang Indonesia dan bukan China asli, sadar akan keliruannya...dan, mau belajar menghargai sesama orang Indonesia.
Jia You untuk semua^^



Read more »

Tujuan membuat lomba nyanyi mandarin Imlek Betawi

Banyak yang bertanya, maksudnya apa sih nyanyi mandarin Imlek Betawi???
Nah, saya mau sedikit menjelaskan nih...
Apakah anda sering mendengar kata "nasionalisme"???
Lalu, apakah anda mengerti maknanya?
ini definisi nasionalisme menurut saya:
Dlm bahasa sederhana, Nasionalisme adalah paham yg percaya bahwa perbedaan dlm sebuah negara harus dipersatukan.
Ajang lomba nyanyi kali ini sengaja mengambil tema Betawi.
Namun juka anda mendengarkan acara lomba tersebut setiap hari rabu jam 1 sampai 4 siang itu, anda tidak akan menemukan unsur Betawinya kecuali bahasa Indonesia yang dipakai untuk membawakan acara tersebut. Semua nyanyian adalah lagu mandarin. Ya, memang, lagu mandarin...namun, nanti saat Semi Final dan Final, kita akan menyemarakkannya dengan unsur Betawi.
Mengapa Betawi???karena, kita hidup di Jakarta. Dan Radio inipun jangkauannya se-jakarta. Lalu, budaya Betawi juga merupakan budaya silang antara Jakarta dan China. Asimilasi yang dihasilkan ratusan tahun lamanya ini menghasilkan budaya Betawi yang sangat unik dan indah.
Saya sangat mencintai budaya Indonesia. Indonesia memang negara yang sangat kaya dengan kebudayaan. Niat saya, ingin agar generasi muda kita jangan sampai melupakan kebudayaan aslinya.
Lalu mengapa disangkut pautkan dengan menyanyikan lagu mandarin? kan kita orang Betawi???

Dan sebenarnya, kalau cinta Indonesia itu adalah tidak boleh pakai bahasa asing dan hanya boleh pakai bahasa Indonesia saja, menurut saya itu kecintaan yang sangat dangkal.
Kalau cinta Indonesia ditunjukkan dgn beli produk2 Indonesia saja, itu juga tipis sekali kecintaannya.
Cinta Indonesia adalah ditunjukkan lewat karya. Lewat apa yg kita lakukan untuk Indonesia.

Banyak sekali yang bisa kita lakukan dengan berbuat sesuatu yang berguna.
Bertahun lamanya saya mencoba memperkenalkan kebudayaan Indonesia di negeri China. Saya ingin mereka tau, seperti apa Indonesia.
Dan kini, saya ingin sahabat di Jakarta juga mulai mengenal, seperti apa itu Betawi.
Saya memang bukan orang Betawi asli. Karena ayah ibu saya sudah campuran antara sunda, jawa dan palembang. Namun, rumah saya sejak kecil adalah Jakarta.
Pada tahun 1990, saya sudah membawakan banyak sekali lagu nusantara yang dinyanyikan dalam bahasa mandarin. Saya rekaman di Shanghai pada waktu itu. Dan bertahun lamanya saya tidak pernah bosan membawakan lagu2 tersebut di setiap kesempatan. Karena, saya ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia. Dan kini, saatnya kita berbuat sesuatu yang positif, unik, menyenangkan, penuh dengan kebersamaan...yaitu dengan menyanyikan lagu Betawi yang dimandarinkan. Mengapa harus di-mandarinkan???mengapa tidak memakai bahasa betawinya saja langsung??
Nah...itu dia...kan saya bilang, ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia. Tujuan saya adalah, saat peserta keturunan tionghoa nyanyi di panggung dengan memakai baju khas Betawi dan menyanyikan lagu Betawi namun dengan bahasa mandarin, apakah itu tidak menarik perhatian?? Final akan diadakan di Mangga 2 Square...anda tau kan, disana banyak sekali turis dari RRC, Taiwan, Malaysia yang notabenenya adalah orang China asli yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Makanya saya ingin memperkenalkan budaya jakarta ini dengan bahasa mandarinnya. Acara nanti terbuka untuk umum. Pastinya akan banyak sekali turis yang bersliweran...Mereka pasti akan turut menikmati acara lomba ini. Sekaligus mereka bisa mendengarkan lagu asli Betawi/Jakarta tanpa harus bertanya2 apa sih arti lagunya????
Saya ingin mereka menyukai kota Jakarta ini. Saya ingin mereka mengenal ondel-ondel, jangan hanya barongsai saja...saya ingin mereka melihat kita memakai baju encim2 betawi dan baju si pitung^^jangan hanya tau baju chongsam saja.  Dan pastinya, saya ingin memberikan sensasi pengalaman baru dan unik bagi peserta lomba. Saya yakin, mereka jarang atau bahkan tidak pernah berpakaianh ala Nyai Dasimah...
Nah, itulah maksudnya mengapa lomba ini dinamakan Imlek Betawi...
Lalu mengapa ada kata "imlek"nya?
Yup! Karena diadakannya pas di bulan Imlek, jatuhnya sesi semi final dan final.
Sederhana saja kok..
Yang penting saya tujuannya ingin mendapatkan bibit2 baru yang dapat menjadi Rani Ke 2..penyanyi yang cinta budaya mandarin namun tidak lupa asal usulnya, yaitu, saya orang Indonesia:)
Read more »

Lomba nyanyi lagu mandarin mempertemukan banyak orang

Banyak yang unik terjadi dalam ajang lomba nyanyi kali ini yang saya adakan bersama Radio Cakrawala 98.30fm. Saya banyak bertemu dengan para peserta yang mengikuti ajang ini. Bagi saya, acara Super Host yang setiap rabu saya bawakan bersama rekan saya, Toni, semakin saja memberikan semangat yang luar biasa. Acara radio yang sudah saya bawakan nyaris 3 tahun lamanya ini berjalan langgeng. Dan perlakuan yang sangat baik oleh keluarga besar Cakrawala membuat saya semakin betah menjalani peran saya sebagai seorang penyiar disana. Dan lomba nyanyi ini merupakan salah satu wujud semangat saya untuk membuat acara radio saya semakin semarak.
Bisa dibilang, ajang lomba ini telah memberikan pengalaman baru bagi radio mandarin pertama ini. Ide saya untuk menghadirkan peserta ke studio dan bernyanyi secara "live" di hari rabu membuat suasana siaran kini menjadi lebih hepi dan heboh^^Semua orang di Cakrawala antusias dan sangat terlihat kekompakan dalam bekerja samanya. Dimulai dari dukungan Cakrawala dengan membangun studio baru. Studio yang kita sebut sebagai studio 2 itu adalah khusus dibangun oleh Cakrawala untuk ajang kali ini.
Saya menginginkan peserta benar2 merasakan pengalaman pertamanya bernyanyi di dalam studio rekaman. Mereka tentunya belum pernah tau seberapa berat menjadi seorang penyanyi rekaman. Jangan dikira saya ini menjadi penyanyi itu mudah. Wah, kalau sudah masuk dalam studio rekaman, itu ceritanya beda deh.
Cakrawala benar2 menyalurkan aspirasi saya untuk membangun studio tersebut^^hebat yah...
Dan dari setiap peserta yang hadir, mereka selalu mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertama mereka bernyanyi dalam studio lho..mereka tidak menyangka bahwa ternyata rekaman itu benar2 membuat grogi..hehe..disitulah anda akan ditest kemampuan vokal anda yang sesungguhnya.
Jika anda memang sering bernyanyi di KTV, di acara keluarga, di panggung hiburan...maka semua itu tidak berarti jika olah vokal anda tidak stabil. Di urusan rekaman, kestabilan vokal anda sangat diperlukan. Dan semua itu tentunya harus melalui pengalaman. Namun, ternyata, di antara sekian banyak peserta yang grogi dan tidak mempu mempertahankan kestabilan vokalnya, ada lho beberapa yang sangat layak untuk dijadikan calon pemenang. Dan rata2 mereka adalah ABG^^
o iya, bicara soal peserta, mereka yang ikut dimulai usia 15 tahun hingga 72 tahun...hahahaha....jangan dikira yang berusia 72 tahun nyanyinya berantakan lho...justru beliau2 itu yang lebih berpengalaman nyanyinya..lihai dehhh
 
Proses lomba adalah sebagai berikut:
Setiap hari senin, selasa, kamis, jummat, audisi akan berlangsung. Karena banyaknya pendaftar yang hingga kini mencapai angka 300org, kami hanya mampu meng-audisi sebanyak 15 orang sehari.
Dimulai dari jam 11 siang hingga jam 5 sore.
Nah, mengapa harus audisi terlebih dahulu???
Karena, kami ingin menampilkan peserta yang layak disiarkan suaranya di radio. Kami berhati2 sekali dalam memilihnya. Maksudnya, agar pendengar tidak "sakit kuping"...hihi..ya iyalah, secara acara lomba ini terdengar sampai ke negeri China lho!!!
Sungguhan. Saya ga bohong. Salah seorang peserta kami adalah asli Zhong Guo Ren. Dia hadir membawakan langunya Jacky Cheung. Dengan bahasa mandarinnya yang benar2 logat RRC, dia mampu menyanyikannya dengan sangat apik. Dan dia bilang, keluarganya di China juga sedang mendengarkan dia nyanyi saat itu melalui Streaming Radio. Wahhh...internet benar2 canggih ya...
Oh iya, jika anda ingin mendengarkan streaming jika di luar kota Jakarta, silahkan saja klik Radio Cakrawala 98.30FM
 
Setiap minggunya, kami akan menyaring 12 orang untuk dimajukan ke babak penyisihan yang akan berlangsung selama 3 bulan. Wah...kok lama ya???ya iyalah, wong acara radio saya ini hanya setiap hari rabu saja kok...
Dan setiap babak penyisihan, kami akan memilih 3 sampai 5 peserta yang layak dimajukan ke semi final yang akan jatuh pada bulan Februari 2012 nanti, bertepatan dengan rangkaian acara Imlek Nasional.
 
Saya bahagia sekali setiap hari rabu. Ga sabaran ingin cepat sampai di Cakrawala, untuk bertemu setiap peserta lomba.
Bagi saya, itu adalah moment kebersamaan yang sangat berarti. Saya jadi bisa menilai, seberapa besarnya antusianisme para pendengar dengan acara lomba ini.
 
Saat tim juri menilai nyanyian mereka di studio 1, terpisah dari studio 2, itu adalah saat yang menarik. Terkadang, kami bingung harus memilih yang mana, karena memang mereka rata2 nyanyinya bagus sekali.
Namun sekali lagi, ajang ini dibuat dengan maksud dapat menghasilkan penyanyi rekaman yang baik. Tentunya, orang yang kami pilih haruslah yang suaranya layak direkam dan bahasa mandarinnya jelas. Walaupun kita ini orang Indonesia, dalam hal rekaman, saya tetap menginginkan si penyanyi dapat membawakan bahasa mandarinnya dengan pengucapan yang jelas , yang benar, yang baik. Justru karena kita ini orang Indonesia, maka tidak ada kalimat "maklum, kan orang Indonesia, ya pasti lafalnya kuranglah.." wow! tidak ada dalam kamus saya lho!!!Tetap kita harus sebagus orang China aslinya. Karena, mana kita tau, ternyata, rekaman suara dan lagu anda itu bisa tembus pasaran di luar Indonesia. Jangan sampai orang luar mengejek logat kita lho...Kita harus mengharapkan acungan jempol dari org asing, bahwa logat kita mampu sebaik mereka. Ya seperti saya lah kalau nyanyi..hehehe...logat saya bagus kan??jelas kan???kalau ga percaya, coba saja dengarkan lagu2 saya, perhatikan lafal saya dengan seksama, anda pasti tidak perlu repot2 mencari tahu teks lirik yang saya nyanyikan, anda pasti bisa langsung mengerti apa sih kalimat2 yang saya nyanyikan itu^^bukannya sombong ini lho..tapi memang kenyatannya demikin..hehehe...
 
Uniknya, lomba ini tidak hanya diikuti oleh mereka yang bisa bahasa mandarin dan keturunan tionghoa . Ternyata , ada juga peserta yang sama sekali tidak bisa bahasa mandarin dan tidak ada darah tinghoanya juga ikut serta. Wah...bahkan terpilih pula menjadi peserta dalam babak Semi Final nanti. Hebat kan!!!
Itulah makanya saya sangat semangat menangani acara ini.
Karena saya mulai merasakan, bangsa Indonesia sedikit demi sedikit mulai terbuka dan mau mempelajari seni budaya mandarin. Mengingat di tanah air kita ini memang saudara2 kita yang keturunan tionghoa itu tersebar dimana2. Dan ajang inipun mempertemukan mereka.
Saya berharap, ajang lomba ini aka menjadi daya tarik yang berkepanjangan dalam acara radio saya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa kami akan melebarkan sayap untuk membuat ajang yang lebih besar lagi dengan diawali ajang persahabatan ini.
Semoga saja...
 
 
 
Read more »

Review Produk