Senin, 03 Oktober 2011

Lagu Ternyata Mampu Menjadi "Bahasa" Dari Hati Ke Hati Antar Negara


Jaman dulu, kita bisa saja protes jika tiba2 mendengar lagu Madu dan Racun (versi mandarinnya adalah fen sung ji mo he ai)yang dinyanyikan oleh Arie Wibowo ternyata dinyanyikan oleh penyanyi Taiwan dengan versi mandarinnya. Dan juga, kita bisa saja mengeluh mengapa orang Cina mengakui bahwa lagu Sing Sing So adalah milik mereka (versi mandarinnya adalah Chuan Ge). Tahukah anda lagu Somewhere Between yang dibawakan oleh pasangan Mochsin-Titiek Sandora dalam versi Indonesia? lalu ternyata sayapun menyanyikannya juga pada tahun 1996 bersama Sarwana dengan judul Hatimu Hatiku? :) Jika anda masih ingat..

Janganlah gusar. Rupanya, itulah indahnya harmony. Siapa saja yang menyukai lagu dari negara mana saja lalu disadur dalam bahasa lain, tentunya sudah membuktikan keindahan lagu tersebut yang membuat lagu tersebut "dibajak". Padahal sebenarnya, itu bukan masalah membajak. Tentunya sudah ada prosedurnya tersendiri dibalik bisnis rekaman tersebut. Pada dasarnya, ada peraturan, Undang2 yang berlaku dibalik semua itu. Tentunya harus disertai dengan "jual beli". Yaitu, membayar hak cipta lagu tersebut kepada si penciptanya yang pertama.
Mengukuti persyaratan yang diajukan secara hukum oleh si penciptanya. Mentaati batasan2 penggunaan lagu tersebut seuai jalurnya. Maka semua itu pasti bisa dilaksanakan dengan sangat baik dan tanpa mengusik berbagai pihak.

Kali ini, yang ingin saya bagi ceritanya adalah lagu Dangdut yang saya nyanyikan dalam versi mandarin. Lagu tersebut mendapatkan tempat yang spesial di hati pendengar di RRC beberapa waktu lalu. Saat saya tampil bersama team Kesenian DKI Jakarta, saya membawakan lagu tersebut. Lagu yang dinyanyikan oleh umi Elvie Sukaesih.

Pada tulisan saya yang sebelumnya, saya ada sempat menyebutkan bahwa saat saya merekam lagu tersebut, saya sempat kesulitan mencari tahu kemana saya harus membayar hak ciptanya. Yang ternyata penciptanya adalah orang Jepang asli dan tinggal di Jepang.
Dari situlah kami mengetahui ternyata lagu tersebut rupanya berasal dari lagu Jepang yang dirilis pada tahun 1967 oleh pasangan duet kembar wanita, The Peanuts. Sangat terkenal dan populer di masanya. Gaya mereka yang khas telah menjadikan lagu tersebut begitu dicintai oleh masyarakat Jepang. Cantik dan menarik, itulah ciri khas mereka.  Berikut ini adalah video penampilan The Peanuts dalam lagu KOI NO FUGA yang adalah lagu asli dari "Jangan Kau Pergi" yang dipopulerkan oleh umi Elvie Sukaesih.




Begitu terkenalnya lagu tersebut hingga menarik perhatian musisi Indonesia untuk menggubahnya dalam versi Indonesia bernuansa dangdut. Dan ternyata benar dugaan mereka,lagu tersebut terdengar sangat menjanjikan saat dinyanyikan oleh umi Elvie. Wow!!!Siapa yang tidak tahu lagu ini???Lagu yang sangat enak sekali. Dari mulai kalimatnya, musiknya, dan suara khasnya Elvie Sukaesih Diva Dangdut Indonesia saat itu. Luar biasa.
Coba saja saksikan video di bawah ini:

Nah...menyusul kesuksesan The Peanuts di Jepang, ternyata merekapun sama seperti Indonesia, sedang trend lagu "daur ulang". Pada tahun 2006 (kalau saya tidak salah mengingat), lagu KOI NO FUGA kembali dirilis oleh pasangan duet gadis belia saat itu. Dengan gaya yang khas, gerakan tubuh dan tarian yang unik, kostum mereka yang sangat sesuai dengan penampilan mereka, telah memberikan "demam" tersendiri di Jepang. Tarian mereka menjadi ajang lomba dimana2. Ibaratnya seperti Sinta Jojo, gaya mereka ditiru dimana2. 

Tidak hanya di Jepang saja, bahkan sampai orang asing pun ikut meniru gaya mereka. Di Japang, benar2 demam Koi No Dance:) Dari mulai pasangan anak2 sampai dewasapun berani tampil menirukan gayanya pasangan duet tersebut. Dengan nuansa musik yang lebih segar dari pendahulunya, KOI NO FUGA menjadi musik dan lagu yang sangat asik di telinga siapa saja yang mendengarnya. Simak saja penampilan mereka berikut ini:)





Nah, sekarang, bicara tentang karya saya nih...
Sayapun telah menterjemahkan lagu tersebut ke dalam bahasa mandarin. Mengapa mandarin? Ya karena versi Indonesia kan sudah dibawakan umi Elvie.
Mengapa tidak bahasa Inggris? hehehe...karena saya ahlinya di Bidang bahasa Mandarin dan kiblat saya adalah menarik perhatian mereka untuk menyukai kabudayaan Indonesia. Kalau Inggris, pasti sudah ada artis kita yang lain yang akan memperjuangkannya toh:) Sekarang, biarlah saya menempuh usaha menarik minat orang Chinese untuk mencintai budaya kita:)
Nah, lagu Jangan kau pergi/Koi no fuga ini saya beri judul Qing Ni Bu Yao Zou.



Dengan nuansa musik dangdut original, bukan Crispy:)p 
Saya membuatnya semakin asik untuk didengar, musiknya lebih atraktif dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi yang mendengarnya. Mengapa saya memilih lagu orang lain ketimbang menciptakan lagu yang baru? Alasannya sangat sederhana, kalau saya menyanyikan lagu mandarin, lebih baik saya memilih lagu yang sudah dikenal dan familiar saja, itu akan lebih mudah diingat orang dan disukai:) Bukan berarti saya tidak PD untuk menyanyikan lagu baru loh. Masalahnya, ini dalam bahasa mandarin. Yang saya harapkan adalah orang Indonesia yang tidak mengerti bahasa mandarinpun juga bisa turut menyukainya. Paling tidak, jika dia tidak mengerti bahasa mandarinnya, maka dia akan ingat dengan versi bahasa Indonesianya. Kira2 seperti itulah:) Sama seperti saat saya menyanyikan lagu milik Krispatih "Demi Cinta" dalam bahasa mandarin. Ternyata, sahabat2 yang tidak mengerti bahasa mandarinpun juga turut menikmati lagu Demi Cinta versi mandarin tersebut:) Walaupun mereka tidak mengerti bahasa mandarin, namun mereka  bisa mengira2 artinya seperti lagu versi aslinya:)
Nah...rupanya, Musik adalah bahasa kalbu yang bisa menyatukan hati sesama...Indahnya berbagi harmony...


0 komentar :

Posting Komentar

Review Produk