Sabtu, 26 Maret 2011

Lawang Sewu, Semarang

Kalau jalan2 ke kota semarang, pasti kalian akan melihat bangunan bersejarah Lawang Sewu. Yang konon katanya memiliki 1000 pintu. Bangunan tua tersebut selalu saya lewati kalau saya baru sampai di Semarang. Karena jarak tempuh dari bandara ke hotel selalu saja melewati lokasi tersebut. Hitung2, sudah puluhan kali saya ke kota semarang untuk menghadiri undangan tampil nyanyi disana. Biasanya, disana kalau tionghoa menikah, selalu saja mengundang artis2 dari ibu kota untuk memeriahkan acara wedding mereka. Dan saya sejak usia belasan tahun sudah sering terbang ke Semarang. Yang paling akrab dengan saya adalah WO Mahkota yang sudah tersohor dan bisa dibilang senior disana. Pemiliknya adalah mba Mingming. Suaminya juga selalu mengantar jemput kami kalau disana, pak Alex dan anak2nya selalu saja rajin ngajak kita kuliner. hehehe...Sudah pasti, saya di semarang paling suka makan Soto Bangkong, trus lesehan malam2 disana...dekat alun2nya. Hotel favorit saya disana selain Ciputra adalah Grand Candi. 
Nah, bicara mengenai lawang sewu ini, ada baiknya kalian tahu sedikit kisahnya. Mumpung masih ada tuh bangunannya. Kita juga tidak akan tahu apakah pemerintah masih akan mempertahankan bangunan tersebut atau tidak.
Ini saya copy paste dari Wikipedia:
Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan tua tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo. Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

Nah, yang ini saya salin dari Surya Online:

Lawang Sewu, Gedung Seribu Pintu dan Seribu Hantu

SEMARANG | SURYA Online - Menyebut Kota Semarang, ingatan langsung melayang ke Simpang Lima. Persimpangan di pusat Kota Semarang ini memang unik. Pertemuan lima poros jalan yang tak umum, di malam hari –terutama Sabtu malam dan Minggu pagi—kawasan ini dipadati pedagang kaki lima.
Dua km arah barat Simpang Lima, ada ‘simpang lima’ lain, karena juga memiliki lima persimpangan jalan berbeda arah. Di satu sudut persimpangan Tugu Muda ini, terdapat bangunan megah yang belakangan menjadi objek wisata menarik.
GEDUNG megah ini menyimpan riwayat panjang. Dibangun tahun 1903, baru diresmikan penggunaannya 1 Juli 1907 untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.
Di bagian depan bertengger menara kembar, mengingatkan pada bentuk menara gothic. Di belakang menara, gedung ini terbelah dua memanjang jauh ke belakang menyerupai sayap. Masyarakat Semarang menyebutnya Lawang Sewu, artinya Pintu Seribu. Gedung monumental ini memang memiliki banyak pintu di kedua sayapnya. Berjajar di kriri kanan membingkai atapnya yang tinggi. Puluhan ruang tersebar di lantai satu dan dua.
Kecuali di lantai tiga berupa hall yang menurut pemandu di Lawang Sewu, dulunya berfungsi sebagai ruang pertemuan. Di bagian bawah gedung masih ada ruang bawah tanah (bungker).
Masa kemerdekaan, gedung tersebut sempat dipakai Kodam IV/Diponegoro kemudian dikembalikan ke Jawatan Kereta Api (sekarang PT KAI). Kemudian beralih ke tangan Departemen Perhubungan sampai tahun 1994. Setelah itu, gedung yang resminya masih milik PT KAI ini dibiarkan kosong. Tak terpakai selama 13 tahun membuat gedung kotor, berdebu, gelap, dan bocor bila hujan. Sebagian kayunya terlihat lapuk.
Memasuki gedung, mata harus dibiasakan dalam gelap. Setelah beberapa saat pandangan disuguhi pemandangan indah, dinding di puncak tangga utama dihiasi kaca patri warna-warni berpola indah. Memasuki lorong di sayap gedung membuat napas sesak karena debu dan udara lembab. Hati pasti miris melihat semua ruangan tertutup dan terkunci rapat.
Hanya satu kamar yang bisa dibuka dengan kunci yang dipegang pemandu. Masih menurut pemandu, dulunya ruangan itu difungsikan sebagai kamar kerja pimpinan. Ini terlihat dari fasilitas yang ada, seperti kamar mandi yang menyatu dalam ruangan, berukuran lebih besar ketimbang kamar lain, plus balkon menghadap ke Tugu Muda.
Dari sini bisa disaksikan lalu lintas yang memanfaatkan akses persimpangan Tugu Muda.
Sebagaimana bangunan kuno lain, meski berusia hampir satu abad dinding dan tiang-tiang Lawang Sewu masih kokoh. Hanya beberapa bagian kayu jendela dan pintu mulai lapuk. Bau khas tahi kelelawar terbawa desir angina mampir ke hidung. Di lantai tampak genangan air bekas bocor.
Kini gedung megah ini tak hanya menarik secara arsitektural. Aroma mistis yang menguar akibat keheningan mencekam selama 13 tahun terakhir menjadi daya jual tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Terlebih beberapa waktu lalu atmosfer Lawang Sewu dengan aura misterinya menayang di Trans TV lewat acara Dunia Lain.
Pada tayangan tersebut terlihat bayangan perempuan berambut panjang dengan pakaian putih datang mendekati peserta uji nyali. Sosok itu terekam di video. Selain itu banyak sekali kejadian mistik yang disaksikan warga sekitar Lawang Sewu. “Kalau mau ketemu hantunya, sebaiknya datang di atas pukul 23.00 WIB,” saran Edi, pemandu di Lawang Sewu. Seperti lima rekannya yang lain, pria berusia tengah baya ini mengenakan seragam kaos bertuliskan Penunggu Lawang Sewu. Mereka siap mengantar ‘tamu’ menikmati Lawang Sewu setiap saat, karena objek wisata ini membuka pintunya selama 24 jam!
Ingin adu nyali? Sebaiknya catat penuturan Edi. Hantu ‘penunggu’ Lawang Sewu jumlahnya cukup banyak. Paling banyak –Edi tak mampu menyebut jumlah pastinya—menempati ruang pertemuan lantai tiga (hall) dan ruang tertutup di sampingnya yang dulunya konon kamar noni-noni Belanda pemuas nafsu. “Tentara Belanda kan sukanya noni-noni cantik.
Karena itu ‘penunggu’ di sini wujudnya kebanyakan perempuan!” papar Edi. Selain hall, atmosfer mistis juga ditemui di bungker yang selalu terendam saat hujan turun. Lantaran, bungker ditutup untuk umum. “Dulunya jadi tempat pembantaian pasukan Belanda,” ungkap Edi.
Sempat Diincar Keluarga Cendana
LAWANG Sewu ternyata menyimpan banyak kisah menarik. Pada masa perjuangan gedung ini menyimpan sejarahnya sendiri. Saat meletus pertempuran lima hari di Semarang, Lawang Sewu menjadi lokasi pertempuran hebat antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan kempetai dan Kido Buati Jepang yang menolak menyerahkan senjata. Pertempuran sengit terjadi tanggal 14-19 Oktober 1945.
Untuk mengenang jasa pegawai Jawatan Kereta Api yang gugur dalam pertempuran, dibangun monumen di depan halaman gedung ini. Selain itu, Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota No. 650/50/1992, menetapkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno/bersejarah yang patut dilindungi.
Begitu kemerdekaan diraih, gedung megah ini difungsikan sebagai Kantor Djawatan Kereta Api Indonesia, sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pernah pula dipakai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah Departemen Perhubungan Jawa Tengah.

Nah, kalau penasaran ingin lihat, ke Semarang aja..hehehe...sekalian saya nitip lunpia semarang yahhh^^
Berikut ini, video Lawang Sewu, kali aja kalian penasaran..

0 komentar :

Posting Komentar

Review Produk