Jumat, 16 Juli 2010

Benarkah Sahabat Tanpa Pamrih?






Persahabatan yang datar dan biasa-biasa saja, adakalanya menjenuhkan. Kalau nonton "Bride's War" , benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi sepasang sahabat yang sejak kecil sudah berbagi segala hal, sedih dan senang, tangis dan tawa. Sampai pada waktunya mereka akan melangsungkan hari pernikahannya...malapetaka terjadi! sungguh suatu tragedi yang luar biasa tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kita yang menonton film inipun terbawa dalam emosi kesal, kocak, menyebalkan namun ...mengharukan.


Ya, itulah persahabatan yang sebenarnya. Sehancur-hancurnya mereka di medan perang, caci maki, tampar menampar, lempar melempar yang sangat parahpun dapat menyatukan hati mereka kembali. Saling menyakiti, bukan berarti tidak setia pada sahabat. Saling membicarakan keburukan di belakangnya, bukan berarti  mereka tidak saling mengagumi.  Iri akan ketampanan pasangan sahabat, tidak berarti kita tidak menyayanginya. Minder karena melihat sahabat kita lebih kaya dari kita, bukan berarti menjadi bahan sebuah ejekan bagi sahabat. Segala sesuatu sangat mungkin bisa terjadi di antara mereka yang bersahabat. Persainganpun juga merupakan hal yang wajar. Namun, kita sering menjumpai persahabatan yang seperti itu. Tetapi kita juga akan merasa heran,"Kok bisa ya mereka bersahabat...?"


Naifnya kita, seringkali mudah merasa kecewa jika sahabat kita melakukan suatu hal yang tidak sesuai keinginan kita.  Teorinya, seorang sahabat semestinya tidak melakukan hal yang bisa mengecewakan. Seorang sahabat semestinya tidak akan mencoba berbohong kepada kita. Seorang sahabat semestinya tidak akan pernah merebut kekasih kita. Ya, itu teorinya. tapi, setelah kita mengalami masa-masa menyebalkan seperti itu, suatu saat, sekelebat, setitik saja, kita tiba-tiba sadar...hanya dia yang mengerti kita, hanya bersama dia kita bisa bersenang-senang, hanya dengan dia kita bisa mencurahkan segalanya, hanya dialah yang dapat membuat kita bisa gila-gilaan, genit-genitan, mampu melewati masa-masa malas sekolah, masa menghamburkan uang, masa berjatuhan cinta-cinta....dan masih banyak lagi. Siapakah yang lebih mengerti kita selain sahabat? Kalupun dia menyakiti kita, apakah benar dia telah membunuh rasa rindu kita?


Manusia memang berbeda karakter..Tp, kalaupun kita tidak pernah menyakiti sahabat kita, apakah berarti kita sempurna? Tidak. Kita tidak sempurna. Hadirnya sahabat kita semakin membuat kita semarak menjalani masa-masa kita.


Apakah benar kita mengerti dirinya?Sementara kita hanya memuji bahwa "Saya tidak pernah salah, Dia lah yang selalu menyakiti Saya." Rasanya, jangan terlalu begitulah.....Karena pada saatnya, kitapun akan melakukan kesalahan yang bisa membuatnya sedih dan menangis.


Saya tidak bisa mendeskripsikan arti sebuah persahabatan yang sesungguhnya. Karena, rasanya terlalu indah dan mulus kalau dudeskripsikan. Sedangkan kita ini hanya manusia biasa, bukan malaikat, bukan dewa. Tidak ada hal yang tanpa pamrih. Semuanya mengharapkan balasan. Kita berbaik-baik pada sahabat, sebenarnya kita juga mengharapkan balasan yang setimpal bukan? Tapi, jangan malu, itu tidak berarti anda tidak tulus. Dalam ketulusan, tetap mengharapkan imbalan yang tulus pula. Bukan begitu?


Silahkan! Ributlah dengan sahabat! Saling memarahilah! Saling mengkritiklah! Saling irilah! Bersainglah!Kalau kalian memang sahabat sejati yang disatukan oleh Tuhan...sekacau apapun kalian ribut, tetap akan bersatu, bahkan semakin mengerti karakter masing-masing. Hikmah dan amanat yang sangat luar biasa untuk dijaga dan dikenang.


Saat tua renta, kita akan berkumpul bersama, duduk di teras, minum kopi, ada pisang goreng, sambil buka album foto, dan tertawakan masa kejayaan kita.....


Sahabat....Keajaiban dari Tuhan yang membuat kita bertahan padanya adalah...kata "maaf"



0 komentar :

Poskan Komentar

Review Produk